Hikmah Ramadhan di Masa COVID19

Dhince25

May 12th, 2020

Awal Januari kemarin ketika mendengar kasus pertama Covid-19 di Wuhan, China, aku termasuk orang yang optimis bahwa virus itu tidak akan masuk ke Indonesia. Meskipun seiring dengan berjalannya waktu keyakinan itu memudar perlahan. Keyakinan yang akhirnya menjadi keraguan itu akhirnya terjawab di Maret 2020. Sekitar kurang dari dua bulan menuju bulan Ramadan. Tidak disangka, inilah Ramadan pertama kami di tengah situasi pandemi. Ketika banyak pekerja dirumahkan, kebutuhan pokok semakin mahal, maka tidak berlebihan jika kukatakan bahwa Ramadan ini adalah Ramadan terberat bagi kami semua.

Selain harus benar-benar menghemat pengeluaran (karena kita tidak akan tahu sampai kapan perusahaan atau instansi tempat kita bekerja mampu membiayai kita meskipun bekerja dari rumah saja), kita juga dipertemukan dengan urusan kemanusiaan. Empati yang harus dibuktikan secara nyata, karena banyak orang yang membutuhkan bantuan kita.

Namun di sisi lain, Allah memang benar-benar menguji kita sebagai seorang beriman. Bagaimana kualitas puasa kita meskipun pandemi tengah menyerang kehidupan seluruh umat manusia di dunia.

Bagaimana harus menjalani ibadah Ramadan, menahan lapar dan haus sementara kita harus menjaga diri dalam kondisi kesehatan terbaik agar memiliki imunitas yang mumpuni untuk menghadapi wabah yang meresahkan ini?

Sebelum itu mari kita berangkat dari kalimat Puasa itu Menyehatkan jika dilakukan dengan cara yang benar. Ingat ya, dengan cara yang benar.

Kenapa puasa dengan cara yang benar itu menyehatkan? Dalam suatu diskusi kesehatan bersama dokter Frida Nila beliau menyebutkan bahwa :

1. Puasa adalah ibadah yang dianjurkan bukan hanya di agama Islam tapi juga hampir di seluruh agama lain. Sehingga tidak salah jika dikatakan puasa itu menyehatkan, hingga seluruh agama pun bersepakat mengenai hal itu.

2. Dalam bidang kesehatan, puasa atau yang terkadang dikenal dengan Intermiten Fasting merupakan salah satu metode yang dikenal manfaatnya dalam menjaga kesehatan, kadar gula dalam darah, kimia darah, dan lain-lain.

Lalu mengapa seringkali kita menganggap bahwa puasa membuat kita lemah atau bahkan bisa menimbulkan sakit?

Seringkali kita berpuasa tanpa menimbang kemampuan tubuh kita, misalnya :

1. Tidak sahur karena merasa selama ini badan sehat-sehat saja walaupun mengonsumsi makanan yang memicu asam lambung seperti makanan terlalu pedas, asam, sehingga setelah berbuka justru merasa sakit perut.

2. Kebutuhan cairan tidak terpenuhi dengan baik.

3. Gizi tidak seimbang

Oleh karena itu, dokter Frida Neila memaparkan dalam kondisi puasa, terlebih di saat wabah sedang terjadi ini, kita harus menyiapkan fisik di kondisi terbaik. Melalui pola makan dengan gizi berimbang (bukan hanya memenuhi 4 sehat 5 sempurna) tapi juga memenuhi kebutuhan makro dan mikro nutrien yang terkandung dalam makanan. Seperti karbo, protein, serat, vitamin dan mineral. Diantaranya mencukupi kebutuhan cairan harian saat buka dan sahur.

Selain itu jika ada obat yang harus kita minum, maka kita perlu mengatur waktu minum obat dengan baik secara rutin. Juga jangan lupa untuk berolahraga ringan serta menjaga kebersihan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat seperti yang sudah banyak dikampanyekan oleh Dinas Kesehatan bahkan sebelum pandemi Covid-19 datang.

Jadi, tetap jaga daya tahan tubuh dengan memenuhi gizi yang seimbang sesuai kebutuhan jasmani kita ya. Selain itu kita harus yakin bahwa puasa memang akan memiliki efek positif terhadap tubuh kita, diantaranya mengistirahatkan organ-organ yang selama ini kita paksa untuk bekerja keras karena “sering” makan, hehe.. Mudah-mudahan bersama dengan puasa Ramadan ini tubuh kita jauh lebih sehat dan kuat menghadapi serangan virus, apapun itu. Aamiin


Puasa di Tahun ini berbeda dengan puasa di tahun-tahun sebelumnya. Kita fokus beribadah dan melakukan banyak kegiatan di rumah, menjaga jarak dengan orang lain dan tetap waspada saat keluar rumah. Sangat terasa sepi jika dibandingkan dengan tahun sbeelumnya, tak ada suara anak-anak yang berlarian dan bercanda di Masjid saat tarawih, tidak ada sorak ramai para remaja yang membangunkan warga saat sahur dan satu hal yang sangat berat tapi harus kita jalani yaitu tidak adanya atau tidak diperkenankan kita untuk mudik ke kampung halaman guna mengurangi persebaran viru COVID-19.

Ada banyak hikmah di bulan Ramadhan tahun ini, apa saja? Yuk simak artikel ini sampai habis ya ๐Ÿ˜Š

Pertama, kita terbiasa untuk membuat menu tuk berbuka puasa di rumah bahkan kita melibatkan anak-anak dalam pembuatannya agar mengisi kegiatan menjelang berbuka. Mungkin masih banyak diantara kita tuk menu berbuka puasa membeli dari pedagang-pedagang kaki lima dipinggir jalan atau dari tetangga terdekat kita. Alhamdulillah disatu sisi hal itu baik, karena banyak dari saudara-saudara kita yang mengalami nasib kurang baik karena wabah COVID-19 jadi terkena PHK dari tempat kerjanya. Mereka menyambung hidup dengan cara jualan menu tuk berbuka puasa. Tapi harus ingat dan waspada dengan keramaian yang ada dan tetap menggunakan alat pelindung diri seperti masker dan kacamata saat keluar rumah ya Sahabat.

Kedua, evaluasi diri mengenai ibadah kita. Kegiatan ibadah seperti sholat tarawih yang sekarang kita dilakukan di rumah dan dilakukan baik secara berjamaah ataupun sendiri, mengajak kita untuk mengevaluasi bacaan surat-surat yang kita hafal. Sholat wajib bisa diawal waktu, selepas sholat bisa membaca Al-Qur’an dengan waktu yang cukup panjang dan seperti bangun sahur kita harus memiliki kebiasaan disiplin untuk bisa bangun sendiri. Sebelumnya kita terbangun kadang karena sorak ramai anak-anak yang berkeliling sekitaran rumah.

Ketiga, bukan karena kita di rumah saja lalu kita bisa duduk santai atau menjadi kaum rebahan yang tidak bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat. Bahkan kita di rumah saja saat Ramadhan kali ini, disini Allah subhanahu wa ta’ala ingin melihat apakah kita bisa memanfaatkan waktu yang ada dengan kegiatan yang lebih mendekatkan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Apa saja kegiatan yang bisa menunjang kita untuk lebih dekat kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Ada beberapa kegiatan seperti menghafal Al-Qur’an, mengikuti kajian online, membaca kitab Riyadhus Shalihin, mengisi waktu selepas sholat subuh dan ashar dengan dzikir pagi dan petang, dan menebar kebaikan dengan teknologi canggih saat ini. Momen ini sangat indah, sangat baik dan sangat mengharukan. Kita mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan kerendahan hati dan dengan kelemahan kita dengan ujian yang sedang kita hadapi ini. Syukur yang begitu berlimpah karena saya bisa Ramadhan di rumah pasangan di rumah, dengan aman dan nyaman. Allah subhanahu wa ta’ala masih memberikan kesempatan untuk beribadah dengan tenang dan nyaman, beda lagi jika Allah berkehendak saya terinveksi virus COVID-19, maka saya akan berada jauh dari rumah, tidak bisa beribadah bersama pasangan, dan saya akan sulit berjumpa dengan orang-orang yang saya sayangi.

Masih dalam suasana puasa Ramadhan, bulan penuh keberkahan, bulannya do’a yang in syaa Allah dijabah oleh Allah subhanahu wa ta’ala, kita perbanyak berdo’a, kita bermunajat pada-Nya, bermuhasabah tentang diri ini pada-Nya tanpa ada halangan dan denga kekhusyukkan disujud kita.

Semoga puasa tahun ini banyak hal yang dapat kita pelajari dan menjadi titik balik kita untuk bisa lebih dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga kita bisa berjumpa dengan Ramadhan tahun berikutnya dengan keadaan sehat wal’afiat, dilimpahkan rejeki dan nikmat yang luar biasa dan pasti tanpa adanya wabah COVID-19 ya ๐Ÿ˜Š. Aamiin ya robbal alamiin.

Selamat menunaikan ibadah puasa ๐Ÿ™‚