Jadilah Muslim Yang Bijaksana

Akhlak Karimah Dilihat 19231 Orang
Dhince25

09-04-2020 15:34:39

Jadilah Muslim

Yang Bijaksana


Definisi Bijaksana

Bijaksana (Al Hikmah) secara bahasa yaitu, menyesuaikan al-haq (kebenaran) dengan ilmu dan akal.1

Secara istilah, bijaksana adalah kebenaran dalam ucapan dan perbuatan serta menempatkan sesuatu pada tempatnya.2

Macam-macam Sifat Bijaksana

Bijaksana ada dua macam, yaitu :

  1. Bijaksana secara ‘ilmiyyah  yaitu mencermati rahasia dari sesuatu dan mengetahui hubungan antara sebab dan akibatnya.
  2. Bijaksana secara ‘amaliyyah yaitu meletakkan sesuatu pada tempatnya.3

Rukun-rukun Bijaksana

Seseorang belumlah bisa dikatakan bijaksana sampai terdapat dalam dirinya tiga hal :

  1. Berilmu (al ‘ilmu). Seseorang pendidik tidak akan bijaksana tanpa ilmu, sedang ilmu tidak bermanfaat jika tidak diamalkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda yang artinya “Tidak ada hasad kecuali terhadap dua orang; seseorang yang Allah berikan harta kemudian ia habiskan pada sesuatu yang al-haq dan seseorang yang diberikan al-hikmah yang dengannya ia memutuskan sesuatu dan ia pun mengajarkannya.”4
  2. Lapang dada (al hilma). Lapang dada adalah dapat menahan diri dan tabiat jiwa dari hawa amarah.5 Langkah pertama dari orang yang lapang dada adalah belajar untuk menahan marah, sedangkan ini butuh usaha yang luar biasa. Jika sifat ini (menahan marah) sudah melekat pada dirinya dan menjadi tabiatnya, barulah dikatakan seorang yang lapang dada.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda yang artinya : “Bukanlah orang kuat itu yang kuat bertarung, tetapi orang kuat itu adalah yang bisa menahan dirinya tatkala marah.”6
  3. Tenang dan berhati-hati (al anaa tu). Berhati-hati yang dimaksud adalah perilaku bijaksana antara terburu-buru dan lamban.7 kehati-hatian merupakan bagian dari sifat sabar karena tidak cepat menghukumi sesuatu sebelum mencari kejelasan terlebih dahulu. Berkata ‘Amru bin al-‘Ash, “Senantiasa seseorang akan memetic buah dari ketergesaan, yaitu penyesalan.”8
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda yang artinya: “Penampilan yang baik, kehati-hatian dan pertengahan (dalam semua urusan) merupakan satu bagian dari dua puluh empat bagian kenabian.9

Potret Sikap Bijaksana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam

1. Bijaksana dalam melihat tipe orang yang dihadapi.

a. Beliau mengkhususkan sebagian sahabat dengan berita rahasia, seperti rahasia nama-nama orang munafiq dan para pembuat fitnah hany untuk Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu anhu, karena dia dapat menjaga rahasia. Juga kabar gembira dari Beliau bagi Mu’adz radhiyallahu anhu, bahwa siapa saja yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah ‘azza wa jalla maka ia akan masuk surga dan Nabi melarang untuk memberitahukan pada orang lain. Beliau juga menugaskan orang-orang tertentu untuk tugas penting karena memang hanya mereka yang dapat melaksanakannya.

b.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam tidak memberitahukan perkara yang dikhawatirkan akan salah persepsi.

  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sangat mengenal pribadi sahabat sehingga terkadang beliau tidak memberitahukan sesuatu yang bisa salah dipahami. Beliau pernah berkata kepada Aisyah radhiyallahu anha, “Seandainya bukan karena Quraisy akan melampui batas maka aku akan beritahukan tentang apa yang Allah telah siapkan untuk mereka.”10
  • Ali radhiyallahu anhu juga tidak mau memberitahukan tentang banyaknya keutamaan orang yang mati syahid melawan khawarij (teroris) karena khawatir para sahabat akan ujub (bangga diri). Karena itu, sebagian sahabat menyalahkan Anas bin Malik radhiyallahu anhu karena memberitahukan hadist al-‘Urainiyyin kepada Hajaj bin Yusuf, sehingga ia banyak menumpahkan darah para sahabat karena salah persepsi dengan hadist tersebut.

c. Variasi jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam kepada para penanya, walaupun pertanyaannya sama. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Nabi bertanya tentang mubasyarah (saling menyentuh/mencium istri) tatkala puasa, maka beliau memperbolehkannya. Kemudian datang orang lain bertanya dengan yang sama maka beliau melarangnya. Ternyata yang beliau bolehkan adalah orangtua dan yang beliau larang adalah pemuda.1

d. Variasi wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam melihat siapa yang meminta.

  • Tatkala datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam seseorang yang meminta wasiat, beliau berkata “Jangan marah!” karena beliau mengetahui orang tersebut suka marah.12
  • Ada seorang Arab badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam meminta ditunjukkan amalan yang bisa membuatnya masuk surge, Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Beribadalah kepada Allah, jangan menyekutukan Allah, dirikan shalat wajib, tunaikan zakat wajib dan puasalah Ramadhan.” Beliau hanya menyebutkan amalan-amalan fardhu tanpa menyuruhnya melakukan yang sunnah, karena orang tersebut baru masuk Islam dan Nabi tidak mau memberatkannya.13

Ibnul Qayyim mengatakan: “ Di sini ada sesuatu yang harus dipahami, bahwa amalan tertentu lebih afdhal bagi orang lain. Orang kaya, sedekah dan kedermawanannya lebih utama daripada shalat malam dan puasa sunnah. Orang yang pemberani dan kuat yang bisa menggentarkan musuh, diamnya dia di barisan depan lebih afdhal dari haji, puasa dan sedekah sunnah. Orang alim yang mengetahui sunnah, halal dan haram, jalan kebaikan dan keburukan, hidupnya bersama masyarakat, mengajarkan dan menasihati mereka lebih baik daripada mengasingkan diri dan konsentrasi shalat, membaca Al-Qur’an dan bertasbih. Waliyul amri (pemimpin) yang telah diamanahi untuk mengadili antara hamba, duduknya sebentar meneliti kezaliman dan meonolong orang yang terzalimi, menegakkan hudud (hukuman) menolong yang haq dan memberantas yang batil lebih baik baginya daripada ibadah bertahun-tahun. Barangsiapa yang dikalahkan oleh syahwat kepada wanita, puasa adalah jawaban terbaik baginya daripada menyebut ibadah yang lainnya.”14

2. Bijaksana dalam metode menghadapi orang
Nabi terkadang menggunakan cara yang lembut, keras, mengancam atau juga memotivasi, tergantung kondisi yang sedang dihadapi. Bukanlah termasuk bijaksana hanya menggunakan suatu cara dalam amar ma’ruf nahi mungkar antara orang tua dan anak kecil, laki-laki dan perempuan, orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan, pejabat dan rakyat, orang yang tempramen dan tenang. Tetapi hendaknya metode juga harus bervariasi disesuaikan dengan umur, pendidikan, tabiat dan lingkungan tempat mereka tinggal.

 

Barakallah, semoga kita bisa menjadi salah seorang hambaNya yang memiliki sikap bijaksana dalam menjalani suatu hal atau untuk mengambil keputusan. Smeoga bermanfaat dan sampai jumpa di artikel selanjutnya. Syukron 😊

 

Footnote :

  1. (Al Mufradat fi Gharibil Qur’an, al-Ashafahani, hal. 127).
  2. (Al Hikmah fi ad-Da’wah ila Allah, Syaikh al-Qahthani, hal. 34)
  3. Madarijus Saikin, Ibnul Qayyim 2/478
  4. HR. al-Bukhari: 73 dan Muslim: 816
  5. Al-Mufradat hal. 129
  6. HR. al-Bukhari: 5763
  7. Al akhlaq al Islamiyyah, Abdurrahman al-Maidani 2/352
  8. Tuhfatul Ahwadzi 6/153
  9. HR. at-Tirmidzi: 2010, Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/195)
  10. HR. Ahmad 6/158
  11. HR. Abu Dawud: 2387
  12. Fathul Bari 1/520
  13. Fathul Bari 3/265
  14. ‘Uddah ash-Shabirin wa Dzakhirah ash-Syakirin, Ibnul Qayyim, tahqiq: Zakariya Ali Yusuf, hal. 93